ASMITA : Dari, Untuk, dan Oleh Perempuan Merdeka, Setara, dan Berdaya

ASMITA : Dari, Untuk, dan Oleh Perempuan Merdeka, Setara, dan Berdaya



“Ketika saya masih kecil, tertanam pendidikan dari orang tua yang menyebabkan anak-anak perempuan tidak terlalu berambisi menjadi wanita karier. Tidak ada pilihan bagi gadis-gadis selain menjadi istri dan ibu bagi suami dan anak-anaknya kemudian. Banyak keluarga yang mengejek anak perempuan menjadi juara kelas tapi tidak dapat menanak nasi. Keluarga yang mempunyai gadis sangat khawatir apabila anak-anaknya tidak mendapatkan jodoh. Rupanya prestasi tertinggi nilainya bagi seorang perempuan adalah apabila ia berhasil menikah dan mempunyai anak.”  (Tedja Kusuma, dalam Abdullah: 2001)

Dunia ibu, dunia perempuan, adalah dunia perlawanan dalam diam, dunia pemberontakan dalam kepatuhan, dunia hening di tengah ingar-bingar keramaian dan kekacauan hidup, dunia kesendirian dalam riuh dan sunyi, dunia penyerahan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan. (Maria Hartiningsih, Kompas 12 Juni 2011)

    Akhir-akhir ini, muncul perdebatan mengenai perempuan yang menjadi ibu rumah tangga atau menjadi perempuan karier. Ada yang menilai bahwa menjadi ibu rumah tangga murni merupakan pekerjaan yang mulia. Ada pula yang menilai bahwa perempuan yang sekolah tinggi namun tidak dapat mengaplikasikan ilmunya dalam menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kegagalan belaka. Membaca dua pandangan tersebut bisa kita simpulkan bagaimana perempuan menempati posisi yang paling rentan dalam sistem patriarki.

    Pembagian kerja dalam relasi individu, keluarga, hingga masyarakat yang semata merujuk pada perbedaan jenis kelamin mendevaluasi nilai dan harkat martabat perempuan sebagai seorang individu yang memiliki seperangkat nilai, cita-cita, dan aspirasi yang utuh. Stratifikasi yang menempatkan perempuan bersubordinasi dengan hubungan hierarkinya bersama laki-laki menunjukkan bagaimana perempuan ditempatkan sebagai pihak yang lebih rendah dengan laki-laki. Subordinasi ini mengakibatkan berbagai hal, dari diskriminasi peran, nilai, dan aspirasi, marginalisasi, stigmatisasi, hingga kekerasan.

    Pembagian kerja secara seksual dalam ruang antar-individu, domestik, dan publik menciptakan segmentasi yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada bidang yang sangat berbeda. Keterlibatan perempuan bahkan dianggap bukan merupakan fungsi dari peningkatan kesadaran laki-laki dan perempuan sehingga tidak memiliki arti mendasar bagi peningkatan kesejahteraan perempuan. Padahal, melihat posisi laki-laki dan perempuan sebagai seorang manusia sejatinya tidak perlu ada upaya ketidakadilan gender sebagaimana yang telah disebutkan. Sebagaimana laki-laki, perempuan juga menginginkan bebas menentukan hidup seperti apa yang ingin dijalaninya—yakni, tidak hanya sekadar di rumah, memasak, berdandan, melahirkan, dan tidak memiliki akses menjemput pendidikan, pekerjaan, hingga perannya sebagai pemimpin. Untuk itulah, kesadaran seksis yang memunculkan upaya penegakan kesetaraan dan keadilan gender, termasuk melepaskan peran domestik dari relasi gender yang bagi kaum perempuan memiliki peran ganda (double burden) di lingkungan keluarga, menjadi satu-satunya solusi. Penguatan kesetaraan gender dan anak muda tidak boleh diabaikan karena perempuan dan orang muda harus mendapat cukup informasi dan kebebasan untuk dapat mengambil keputusan mengenai hak reproduksi, usia saat menikah, saat memiliki dan jumlah anak, serta kebebasan berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik di lingkungan mereka.
 
Logo ASMITA

    Pada tahun 1900-an, R.A. Kartini, perempuan yang menghabiskan masa pernikahannya di Kabupaten Rembang, berdiri kokoh sendirian melawan tradisi yang membatasi perempuan Jawa dalam mengakses pendidikan. Dalam perjuangannya, beliau terus berbicara mengenai hak vital keterlibatan perempuan dalam ruang publik. Bagi beliau, perempuan harus setara dengan laki-laki dalam kesempatan memperoleh akses pendidikan. R.A. Kartini yakin bahwa pendidikan mampu mengubah cara pandang masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup perempuan. Kartini memberontak terhadap feodalisme, poligami, dan adat istiadat yang mengukung perempuan. Beliau yakin pemberian pendidikan yang lebih merata merupakan kunci kemajuan.

    Melihat urgensi pendidikan yang berfungsi untuk menumbuhkan kesadaran akan kemerdekaan berdasarkan pondasi perjuangan yang dilakukan oleh R.A. Kartini, atas inisiasi bersama untuk berpartisipasi dalam usaha menciptakan keadilan dan keseteran gender, ASMITA hadir sebagai salah satu bagian independen Gubuk yang berkonsentrasi dalam urusan perempuan. ASMITA merupakan wadah yang Gubuk miliki yang berfokus pada perjuangan keseteraan gender dan pemberdayaan perempuan. ASMITA sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “kemenangan”. ASMITA bercita-cita dapat memenangkan medan perjuangan kesetaraan dan keadilan gender dengan visinya “merdeka, setara, dan berdaya”. Fokus pergerakan ASMITA ialah berada dalam ranah intelektual, pemberdayaan, dan advokasi yang secara spesifik dalam lingkup Kabupaten Rembang. Nilai-nilai yang diangkat dari ASMITA diciptakan dengan memadukan antara feminsime, keagamaan, serta perspektif kelingkungaan. Kedepannya, ASMITA akan berkontribusi dalam menyelenggerakan kelas pemikiran, riset, diskusi, menulis, aktivitas pemberdayaan dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya, hingga advokasi.

Untuk itu, dalam merawat usaha dan idealisme ini, ASMITA meminta bantuanmu untuk turut serta dalam perjuangan solidaritas ini. Semangat kebersamaan adalah salah satu jalan yang ASMITA percaya dapat membantunya untuk mencapai "kemenangan".

Rembang, 4 Oktober 2020,

ASMITA.

Posting Komentar

0 Komentar