MARTANI : Masyarakat Sadar Tani

 MARTANI : Masyarakat Sadar Tani



Dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً

“Tidaklah seorang muslim menanam suatu pohon melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/36124/kh-hasyim-asyari-pak-tani-itulah-penolong-negeri

Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat  negeri didasarkan.” Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari
Pada masa sekarang ini banyak sekali masalah-masalah yang terjadi dalam bidang pertanian. Kita dapat melihat banyaknya tanah, sawah dan kebun mulai tidak dipergunkan dan bahkan tidak sedikit yang alih fungsikan menjadi lahan pemukiman, perusahaan dan lain sebagainya. Seharusnya semakin banyaknya jumlah penduduk pasti akan menambah banyaknya kebutuhan pangan dan pastinya dibutuhkan lahan atau pengetahuan untuk menciptakan pertanian yang mumpuni untuk menunjang kesetabilan pangan.

“ketika dihadapkan pada krisi ekonomi dan keungan, yang menyebabkan fluktuasi (ketakmnentuan) pasar: disinilah pertanian ala kaum bertani berada di garda depan dengan menyediakan cara produksi pangan yang tangguh menghadapi guncangan” chayanovian, ICAS, petani dan seni bertani, Agraria. Insist Press, 2019.

Persoalnya lainnya yang dirasakan adalah, kami juga melihat sedikitnya pemuda yang terjun dalam bidang pertanian dikarenakan berbagai alasan salah satunya minimnya pendapatan yang dapat diambil dari bertani. Masaalah petani yang hanya menanam dam menanam tanpa melihat bentuk lahan tanah dan minimnya fasilitas untuk bertani. Ini membuat orang sangat enggan untuk bertani. Jika kita melihat sejarah peradaban Indonesia, bahwa Indonesia merupakan negara yang nenek moyangnya adalah seorang penanam atau petani ulung dan pelaut atau nelayan yang baik.

Pertanian adalah pokok dari segala bentuk untuk menciptakan pangan dasar bagi masyarakat Indonesia, semestinya dengan sumber daya alam yang melimpah Indonesia harus menjadi pelopor pangan bagi rakyatnya dan menjadi lumbung padi di negeri sendiri. Tapi kenyataanya Indonesia merupakan negara yang mengimpor bahan dasar pangan. Bung Karno pernah berkata “Hidup matinya sebuah negara, ada ditangan sektor pertanian negeri tersebut.”

Dalam hal ini Martani (Masyarakat Sadar Tani) hadir dalam bentuk komunitas independent yang dibawahi oleh TBM Gubuk Baca Cahaya Negeri. Martani merupakan wadar bersama bagi para petani-petani yang ingin mengembangkan diri dan menjadi wadah pengetahuan tentang agraria, tanah, pupuk, dan benih.

Dengan semangat bertani ini semoga kedepannya Martani menjadi ruang yang benar-benar terbuka yang ikut ambil andil dalam pemanfaatan lahan pertanian, pengetahuan bertani serta menjadi ruang bebas berpendapat untuk menampung keluh kesah para petani.ntuk lahan tanah dan minimnya fasilitas untuk bertani. Ini membuat orang sangat enggan untuk bertani. Jika kita melihat sejarah peradaban Indonesia, bahwa Indonesia merupakan negara yang nenek moyangnya adalah seorang penanam atau petani ulung dan pelaut atau nelayan yang baik.

Pertanian adalah pokok dari segala bentuk untuk menciptakan pangan dasar bagi masyarakat Indonesia, semestinya dengan sumber daya alam yang melimpah Indonesia harus menjadi pelopor pangan bagi rakyatnya dan menjadi lumbung padi di negeri sendiri. Tapi kenyataanya Indonesia merupakan negara yang mengimpor bahan dasar pangan. Bung Karno pernah berkata “Hidup matinya sebuah negara, ada ditangan sektor pertanian negeri tersebut.”

Logo MARTANI

Dalam hal ini Martani (Masyarakat Sadar Tani) hadir dalam bentuk komunitas independent yang dibawahi oleh TBM Gubuk Baca Cahaya Negeri. Martani merupakan wadar bersama bagi para petani-petani yang ingin mengembangkan diri dan menjadi wadah pengetahuan tentang agraria, tanah, pupuk, dan benih.

Semangat bertani ini semoga kedepannya Martani menjadi ruang yang benar-benar terbuka yang ikut ambil andil dalam pemanfaatan lahan pertanian, pengetahuan bertani serta menjadi ruang bebas berpendapat untuk menampung keluh kesah para petani.

Posting Komentar

0 Komentar