Kendala-Kendala Keluarga dalam Menghadapi Pandemi

 



KENDALA KELUARGA DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN KETAHANAN YANG TERJADI DI MASA MARAKNYA PANDEMI COVID-19 

Oleh: Salamatun Nisa’ 

Email: Salamatunnisa01@Gmail.com 

Fenomena pandemi Covid-19 yang saat ini marak dan sering dijadikan topik pembicaraan di dunia nyata maupun di dunia maya dan yang mengubah tatanan kehidupan masyarakat, dalam segi sosial, ekonomi maupun budaya. Kebijakan yang setiap negara buat saat ini semuanya merujuk pada Wold Health Organization (WHO) untuk menyelamatkan masyarakat dari pandemi tersebut. Untuk menyikapi pandemi ini Pemerintahan Indonesia menganggap pandemi tersebut sebagai kedaruratan dalam lingkungan masyarakat, sehingga mengeluarkan kebijakan sosial yang dianggap ampuh untuk menyelesaikan fenomena ini, yaitu semua orang untuk tinggal di rumah dan mengganti aktivitas yang biasanya mereka lakukan di luar sekarang harus dilakukan di dalam rumah. Kebijakan ini mulai berlaku tanggal 16 Maret 2020 dan sampai sekarang masih berlaku. Beberapa orang menganggap pandemi ini sebagai hal yang merugikan dalam kehidupan keluarganya, dalam segi ekonomi. Seperti halnya seorang pedagang kakilima yang biasanya setiap harinya dagangannya tersebut habis dan karena adanya pandemi ini semuanya mengeluh, karena penghasilanm dari dagangannya tersebut masih tersisa. Hal ini membuat ketahanan pangan keluarga menurun dan tidak tercukupi. Semua orang berkumpul di tengah keluarga dan beban keluarga semakin bertambah dalam menghadapi situasi pandemi yang seperti sekarang ini. Anak-anak mulai belajar di rumah dan semua itu membuat ketidaknyamanan mereka dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini dapat mengakibatkan orangtua harus mendampingi anaknya dalam masa pembelajaran di rumah, sementara itu orangtua juga memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan dari rumah. 

Selain tinggal di rumah keluarga harus menjaga kesehatan anggota keluarganya dan mengajari anak-anaknya sesuai dengan ketentuan dan aturan pandemi COVID-19, yaitu dengan cara mencuci tangan, meningkatkan kebersihan tubuh, bila keluar rumah memakai masker dan selalu membawa hand sanitizer saat bepergian keluar rumah. Masyarakat mempunyai aktivitas yang sekarang telah berubah sejak adanya Pemerintahan Indonesia yang menetapkan kebijakan protokol isolasi mandiri dan pencegahan penularan corona virus, diantaranya dengan mengalihkan aktivitas kerja dan belajar dari rumah serta pembatasan sosial berskala besar di beberapa daerah di Indonesia. Isolasi mandiri merupakan pemisahan dan pembatasan Gerakan dari orang yang berpotensi tertular virus sehingga mengurangi risiko menularkan penyakit kepada orang lain. Protocol kesehatan telah di sosialisakikan, implementasi di lapangan masih menjadi tantangan mengingat kebijakan pembatasan ini jauh-jauh dari cerminan budaya masyarakat. Dampak protokol isolasi mandiri selama masa pandemi ini telah banyak dikaji dari berbagai perspektif, mulai dari kesehatan mental dan kesehatan fisik, kesehatan lingkungan dan masyarakat, komunikasi dan gaya hidup, sampai dengan masalah relasi sosial. Pada level individu, dampak isolasi pun dihubungkan dengan gangguan seperti depresi, stress, kemarahan, kebingungan, ketakutan, kesedihan, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya yang berdampak pada kehidupan keluarga. Isolasi mandiri sangat dapat membantu masyarakat, dengan cara menerapkan ajaran-ajaran yang diterapkan oleh Pemerintah agar tidak semakin menambahnya COVID-19. Fungsi keluarga di masa isolasi COVID-19 ini penting dalam perlindungan dan pertahanan anggota keluarga, selain mendorong pada penyesuaian terhadap kebiasaan baru, dan membangun koneksi baru. Keluarga akan mengalami emosi yang muncul dan dapat mempengaruhi tekanan yang muncul pada keluarga tersebut, dan terkait dalam kesehatan maupun psikologis. Ketahanan keluarga adalah hal yang penting selama masa isolasi COVID-I9 dalam mempersiapkan kebiasaan baru, karena ketahanan keluarga memengaruhi kehidupan anggota keluarga serta berkontribusi pada aspek, pengasuh, Pendidikan dan sosialisah. Selain itu, ketahanan keluarga dapat melindungi anggota yang berisiko serta berfungsi untuk mencegah risiko masalah di keluarga. 

Peran keluarga dalam menghadapi COVID-19 adalah dengan menjalankan kembali ketentuan-ketentuan keluarga, yaitu melindungi keluarga agar tetap sehat, dengan cara saling mengingatkan satu sama lain berkaitan dengan perawatan diri, seperti cuci tangan pakai sabun, menjadikan kebiasaan bersih dalam hal apapun, kesehatan keluarga. Saling menyayangi, dengan cara membuat kenyamanan kepada keluarga, seperti memberi perhatian dan saling menghargai antara sesama anggota keluarga lainnya. Meningkatkan resiliensi anggota keluarga dengan cara tidak bicara menakutkan atau kasar yang membuat anak-anak tidak nyaman saat berada di dalam rumah, melakukan relaksasi, melaksanakna olahraga secara teratur untuk manaikkan imun. Mendampingi anak ketika sedang belajar dan bila tidak jelas orangtua bisa menanyakan semua itu kepada gurunya. Meningkatkan komunikasi dan relasi positif, saling memberi penguatan menghindari konflik di keluarga dan menghabiskan waktu untuk bersama dengan cara yang positif. Membicarakan keuangan ekonomi keluarga secara bersama COVID-19. Memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak secara individual dalam keluarga. Dengan cara mendengarkan keluhan yang dirasakan oleh anak. Mencegah kekerasan dalam anak. Interaksi keluarga merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan anggota keluarga. Dalam pertukaran antarargumentasi di keluarga, pemikiran yang menyimpang akan terjadi dalam keluarga di masa isolasi COVID19 ini, sehingga menimbulkan turbulensi tekanan emosional yang berdampak pada suasana hati anggota keluarga. Munculnya kecemasan tersebut mungkin menjelaskan pada keluarga tentang risiko yang tidak suka tinggal di rumah selama masa isolasi. Sementara ketahanan keluarga yang lebih kuat dimiliki oleh keluarga suburban fringe. Sebagai keluarga yang tinggal di jalur tepi subdaerah perkotaan, anggota keluarga ini cenderung memiliki mobilitas yang tinggi dan lebih jauh dari pusat keramaian dan jauh dari suatu hal yang membuat keluarga tidak nyaman akan hal itu yang memungkinkan keluarga menjadi lebih kohesif. 

Hal lain mengidikasikan bahwa system keyakinan keluarga mungkin relatif lebih baik dan nyaman, dan komunikasi keluarga juga lebih solutif dibandingkan keluarga yang suburban dan ruralurban fringe yang lebih rentan terhadap situasi lingkungan keramaian karena dekat dengan pusat perkotaan. Dengan demikiah, temuan ini menunjukkan area tempat tinnggal keluarga juga mempengaruhi perbedaan reaksi emosi dan ketahanna keluarga dalam meghadapi pandemi COVID-19. Keluarga menjadi tumpuan bagi setiap orang selama pandemi COVID-19 berlangsung. Semua aktivitas dilakukan di rumah, mulai dari pembelajarana anakanak yang dilakukan secara Daring dan mereka yang bekerja juga work from home serta dianjurkannya stay home. Beban keluarga dengan adannya ini semakin bertambah, seperti: 1) meningkatkan kesehatan dalam keluarga; 2) melaksanakan funfsi Pendidikan; 3) meningkatkan perlindungan keluarga; 4) mengefektifkan pengasuhan; dan 5) memelihara resiliensi keluarga. Isu meningkatnya beban keluarga, ditunjukkan dari mulai keluarga melihat hasil survei yang diresponns oleh 223 orang tentang stress orang ua mendampingi anank belajar di rumah pada awal kebijakan sosial. Pada tahap ini sudah ada kekhawatiran orangtua terkait dengan kesehatan keluarga, ekonomi keluarga dan Pendidikan anak. Sementara pandemic COVID-19 belum jelas kapan berakhirnya dan keluargalah yang akan menghadapi permasalahan yang terkait dengan adanya dampak pandemi ini. Keluarga sebagai tumpuan solusi dalam menghadapi pandemi COVID-19 merupakan sumber pertolongan pertama bagi anggota keluarganya. Memelihara kesehatan dan kekuatan keluarga dalam memfungsikan kembali fungsi keluarga merupakan aspek penting yang harus dipelihara. Dengan adanya ketahanna keluarga akan membangkitkan motivasi anggota keluarga dalam menghadapi COVID-19. Namun apabila keluarga mengalami disfusi maka pekerja sosial perlu memberikan layanan konseling keluarga untuk mneingkatkan ketahanan keluarga dalam menghadapi krisis pada masa pandemic COVID-19. 

Keluarga yang tinggal di Kawasan perkotaan lebih mengarah pada sistem ketahanan yang lebih kuat dibandingkan keluarga yang berada di wilayah pedesaan. Sedangkan tantangan dalam ketahanan keluarga dimiliki oleh orangtua, keluarga yang kurang reppresentatif sehingga dapat memengaruhi hasil pada temuan studi. Hal ini dapat menjadi pemenuan di masa depan. Meskipun demikian, temuan ini penting sebagai gambarandan meningkatkan perlindungan dalam keluarga, melalui menerappkan kedisiplinan dalm menjaga kesehatan fisik dan mental dalam menguatkan ketahanan keluarga, mempersiapkan identitas keluarga yang baru, dan memelihara hubungan keluarga yang terkelola dengan tetap menjaga keterbukaan komunikasi dan privasi antar anggota keluarga. 

 DAFTAR PUSTAKA 

Ramadhana Rezi Maulana, mempersiapkan ketahanan keluarga selama adaptasi kebiasaan baru di masa pandemic Covid-19, jurnal kependudukan Pancasila, Edisi khusus Demografi dan Covid-19, juli 2020. 

Susilowati Ellya, peranan keluarga menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia, politeknik kesejahteraan social Bandung, juni 2020.

Posting Komentar

0 Komentar